Ratusan peserta jalan sehat dalam rangka Festival Teh dan Kopi tahun 2012, Minggu (8/7) pagi, dilepas Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan di Gedung Pakuan, Jalan Otista No 1 Bandung. Mereka melakukan jalan sehat sepanjang 4 Kilometer dari Gedung Pakuan dan berakhir di Ciwalk, Jalan Cihampelas Bandung.

Heryawan berharap, jalan sehat tidak hanya menjadi kegiatan sewaktu-waktu, melainkan bisa menjadi budaya masyarakat Jabar, serta menjadi olahraga kebutuhan warga, selain bisa menjadi sehat dan bugar.

Menurutnya, jalan sehat merupakan kegiatan yang harus didorong untuk menjadi kebiasaan. Selain olahraga, menjaga kecukupan gizi seimbang melalui asupan makanan yang sehat dan tidak berlebihan juga penting.

Sebab, kata dia, apapun makanan tersebut jika dikonsumsi berlebihan hasilnya akan kurang baik, terlebih untuk kesehatan tubuh. “Untuk itu, olahraga teratur dan dibarengi dengan asupan makan yang bergizi seimbang, dan mengurangi makan dan minum yang kurang baik, akan bisa menjaga tubuh tetap sehat,” kata Heryawan.

Selain melepas ratusan peserta jalan sehat, Gubernur juga meresmikan empat buah pabrik pengolah kopi “Java Preanger” yang tersebar di sejumlah Kabupaten, seperti Kabupaten Bandung Barat, Kabupaten Bandung, Ciamis dan Garut.

Lebih lanjut Heryawan mengimbau, agar warga Jabar bisa mengkonsumsi teh dan kopi secara teratur. Sebab jika dikonsumsi dengan berimbang dan tidak berlebihan, akan membantu menghaluskan kulit. “Teh dan kopi itu banyak mengandung zat bermanfaat bagi tubuh, dan baik untuk kaum ibu, sebab bisa menghaluskan kulit juga,” ujarnya.

Selain mendatangkan manfaat bagi tubuh, teh dan kopi, terlebih hasil produk lokal, akan mampu meningkatkan kesejahteraan para petani. Apalagi, Jabar merupakan penghasil teh terbesar di Indonesia serta memiliki lahan kopi potensial sekitar 600.000 hektar di enam kabupaten di Jabar.

Lahan kopi di Jabar lebih luas jika dibandingkan dengan luas lahan di negara Vietnam, yang hanya 500.000 hektar. Dengan perbedaan 100.000 hektar, Vietnam mampu menjadi produsen kopi terbesar kedua setelah Brazil.

Dengan kata lain, jika dikelola dengan sunguh-sungguh dan profesional, bukan tidak mungkin Jabar pun mampu jadi penghasil teh dan kopi terbesar di dunia. “Nah untuk mengarah ke sana, maka diperlukan perencanaan, pelaksanaan serta dukungan semua pihak, dalam hal ini warga Jabar untuk rutin mengkonsumsi teh dan kopi lokal,” tandasnya.