Senin, 11 April 2016

Milisi Abu Sayyaf Lumpuhkan Pasukan Elite Filipina

Abu Sayyaf

Kekuatan milisi Abu Sayyaf tak bisa diremehkan. Buktinya, kelompok separatis tersebut berhasil melumpuhkan pasukan elite Filipina. Sebanyak 18 tentara Filipina tewas dan puluhan orang luka-luka saat mencoba menyerbu kelompok Abu Sayyaf.

Keberhasilan kelompok Abu Sayyaf melumpuhkan pasukan elite Filipina, tidaklah menakutkan Tentara Nasional Indonesia (TNI). Kepala Penerangan Kodam VI Mulawarman Kol Inf Andi Gunawan kepada merdeka.com, Minggu (10/4), mengatakan, keberadaan kelompok Abu Sayyaf yang bersembunyi di bukit dan hutan, bukan kendala serius bagi TNI. Pasukan TNI masih tetap bersiaga satu di Tarakan menanti penugasan.

"Kita kan spesialis itu juga. Spesialis gunung hutan, spesialis kita. Laut rawa, spesialis kita. Disesuaikan dengan medan yang ada, demikian juga di asia tenggara juga seperti itu," kata Andi Gunawan.

"Hutan rawa, medan dan kondisi yang berubah ubah, kita harus hadapi. Tentu diantaranya pertimbangan demografinya, sosialnya, untuk menunjang keberhasilan tugas. Kelengahan akan berakibat fatal. Itu sangat tabu bagi pasukan kita," tegasnya.

Ditanya lebih jauh kondisi terkini pasukan TNI di Tarakan, Kalimantan Utara, Andi memastikan kesemuanya dalam kondisi baik dan siap sedia.

"Pasukan dalam kondisi segar, terlatih. Soal Filipina jadi di pembelajaran. Sesama tentara, turut belasungkawa karena tugas tentara yang membela negara masing-masing," pungkasnya.
Serangan Udara

Sementara pengamat terorisme Wawan Purwanto menyebut hingga saat ini sulit bagi TNI untuk melakukan serangan. Sesuai dengan aturan perundangan, pemerintah Filipina tak mengizinkan TNI bergerak.

Namun jika seandainya pasukan elite TNI boleh diterjunkan, yang pertama harus dilakukan adalah mengenali medan sebaik mungkin. TNI punya tim Sandi Yudha yang bisa menyusup jauh ke daerah lawan untuk mencari data sebanyak mungkin.

Wawan menilai serangan pada Abu Sayyaf tak mungkin hanya dilakukan pasukan darat. Dukungan serangan udara dari pesawat tempur mutlak dibutuhkan.

"Pertama untuk menghancurkan obyek vital lawan seperti instalasi perhubungan atau gudang senjata. Kedua untuk mengalihkan perhatian saat tim darat bergerak membebaskan sandera," katanya.
Jika targetnya menghancurkan seluruh kekuatan Abu Sayyaf, dukungan kavaleri lapis baja dan tembakan artileri juga dibutuhkan.

Milisi ini tak bisa dianggap enteng. Mulai dari tahun 2002 sampai 2015, pasukan gabungan Amerika Serikat dan Filipina menggelar Operasi Enduring Freedom untuk menghabisi kelompok militan di Filipina, termasuk Abu Sayyaf. Operasi itu juga gagal menumpas Abu Sayyaf.

"Soal kegagalan dalam perang gerilya, AS juga kan kalah di Vietnam. Inti perang gerilya bagaimana membangun jaringan perlawanan bawah tanah, memancing lawan dan melakukan manuver untuk menghancurkan kekuatan yang lebih besar," kata Wawan. [http://www.goriau.com/]