Minggu, 03 Januari 2016

Seorang wartawan menjadi korban pemukulan oknum polisi


PALUTA – Rupanya pada saat aksi demo berujung ricuh di halaman kantor Pemkab Paluta, Selasa (29/12) kemarin, Abdul Rahman (25) salah seorang wartawan TV nasional (kontributor,red) ikut menjadi korban pemukulan oknum polisi.

Mirisnya, pria yang sudah menyebutkan identitas itu malah dipukul, ditendang dan dilontarkan kata-kata yang tidak pantas.

“Waktu itu saya sedang melakukan peliputan, tiba-tiba saja suasana berubah ricuh dan saya terus mengambil gambar. Lalu datang polisi dan langsung memukuli saya,” ungkap Abdul Rahman sambil menahan sakit dan menujukkan pakaiannya yang kotor bekas tendangan yang diakuinya dilakukan beberapa oknum polisi, Selasa (29/12) kemarin di ruangan Reskrim Mapolres Tapsel.

Pantauan Kru Koran ini, Selasa (29/12) kemarin, Abdul Rahman tampak diamankan bersama beberapa demonstran lainnya di ruangan Sat Reskrim Polres Tapsel. Sambil menahan sakit dibagian kaki kiri dan dadanya, wartawan dari salah satu media elektronik (MNC Group, red)  itu menceritakan kronologis yang menimpanya.

Selasa (29/12) sekitar pukul 12.00 WIB kemarin, ia melakukan peliputan terkait adanya aksi unjuk rasa yang dilakukan oleh sekelompok mahasiswa yang mengatasnamakan Aliansi Mahasiswa Penyelamat Uang Negara (AMPUN) Tabagsel yang berlangsung di halaman kantor Pemkab Paluta.

Mulanya, ujar Rahman, suasana demo yang menuntut penyelesaian masalah terkait lahan di Desa Batang Pane Kecamatan Padangbolak, Paluta itu berlangsung aman dan kondusif. Namun, disaat demonstran meminta Bupati Paluta Bahrum Harahap untuk menemui dan menaggapi tuntutan tersebut secara langsung, tiba-tiba saja suasana berubah ricuh. [sumber]