Minggu, 06 Desember 2015

Reka Ulang Mertua Telanjangi dan Siksa Menantunya di Tapsel


Reka ulang kasus mertua yang mengikat menantunya di pohon kelapa, digelar Sabtu (21/11/2015) sore lalu. Dalam adegan rekonstruksi terungkap, mertuanya meminta OW membuka pakaian, lalu ditarik dan diikat ke pohon kelapa. Setelah itu, sang mertua merobek-robek pakaian korban dan membakarnya.

Dari hasil reka ulang di Dusun Gunung Harapan II, Desa Batu Godang, Kecamatan Angkola Sangkunur, Tapsel, juga terungkap bahwa korban diperlakukan tidak manusiawi hanya gara-gara tidak bisa mengguris (menderes, red) karet dengan benar.

Kejadian itu dialami OW Senin (26/10/2015) sekitar pukul 10.00 WIB. OW yang saat itu sedang berada di rumah dimarahi kedua mertuanya, EG dan YB. “Dia (korban, red) tidak becus bekerja, mengguris karet selalu salah makanya kami marah dengan dia,” ujar YB, ibu mertuanya.

Mulanya, OW (yang diperankan polwan, red) duduk di dekat pintu depan rumah mereka sambil dimarahi kedua mertuanya. Selanjutnya, YB mendatangi dan menendang kedua kakinya (bukan dada seperti pengakuan korban, red) lalu menariknya ke halaman.

Di situ, korban diminta membuka pakaiannya sendiri, bukan dipaksa seperti pengakuan korban. Setelah korban membuka pakaiannya, YB menarik korban menuju pohon kelapa di depan rumah.

Dalam kondisi telanjang, korban disuruh memeluk pohon kelapa. Kedua tangan dan kakinya lalu diikat YB menggunakan tali disaksikan suaminya, EG (ayah mertua korban) dan anak mereka yang masih kecil.

Setelah korban terikat, EG memanggil RW (12) yang dilihatnya berada di kediamannya. Selanjutnya, EG meminta RW merekam korban dengan menggunakan handphone milik RW.

“Waktu itu saya lagi di rumah dan melihat kejadian itu, lalu dipanggil sama Ama Arman (EG,red) dan menyuruh saya untuk memvideokan OW,” ungkap RW yang juga mengaku korban diikat hanya gara-gara tidak bisa mengguris.

Sekitar beberapa menit diikat, juga sesuai dengan tayangan video yang terekam, YB, mengambil pakaian milik korban lalu merusaknya dengan cara dipotong-potong menggunakan parang, lalu membakarnya.

Sekian lama, korban dalam kondisi telanjang dan terikat, terus merintih dan menangis, hingga akhirnya ikatan dibuka oleh RW dan memberikan OW sehelai kain untuk menutupi tubuhnya.

Dalam rekonstruksi yang dipimpin langsung Kasat Reskrim Tapsel AKP Jama K Purba didampingi Kanit PPA Ipda H Anil DS, polisi hanya membawa YB dan EG tanpa menghadirkan korban dan suaminya dengan alasan keamanan.

“Jadi untuk gelar rekonstruksi ini, kami hanya membawa kedua mertua korban tanpa membawa suami dan korban. Hal ini untuk mengantisipasi terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan,” ungkap kasat.

Proses rekonstruksi berjalan aman meski lokasi dipadati sejumlah warga dan sebagian kecil menyampaikan ungkapan kemarahan.

Sekedar diketahui, menuju desa itu harus menempuh perjalanan sekitar empat jam, satu jam dengan berkendaraan dari Kota Padangsidimpuan menuju Desa Batu Godang dan dilanjutkan tiga jam jalan kaki. Wartawan Metro Tabagsel (grup metrosiantar.com) yang turut bersama polisi baru bisa keluar dari dusun itu Minggu dinihari.

Sebelumnya, penyiksaan yang dialami OW (19) terungkap lewat video handphone yang beredar di masyarakat. Aksi tidak manusiawi itu terekam selama 7 menit 9 detik. Dalam video itu, kaki dan tangan korban diikat pada batang pohon kelapa dengan kondisi tanpa sehelai benang di tubuhnya. Mirisnya, korban yang terus merintih dan menangis, tak juga menggugah iba hati suami dan kedua mertuanya.

Bahkan suaminya melihat dan ikut memarahi serta menganiaya istrinya.