Minggu, 01 November 2015

Misteri Putri Dikutuk Menjadi Batu

Konon pada awal peradaban manusia di Sulawesi Selatan, khususnya di kawasan Kabupaten Bone ; yang dimulai dengan munculnya Tomanurung, kemudian berdiri sebuah kerajaan yang sangat kaya, dan rakyatnya hidup serba berkecukupan. Kerajaaan itu bernama Mampu.

Negeri Mampu ini dipimpin oleh seorang raja yang bernama La Oddang Patara, didampingi permaisuri bernama I La Wallellu, yang bergelar Puang Mallosu-losuE Ri Mampu (Ratu yang telanjang dari Mampu). Kerajaan Mampu merupakan negara agraris dan maritim yang terdiri dari tujuh distrik, yang masing-masing distrik dikepalai oleh seorang kepala distrik atau dusun. La Oddang Patara, merupakan generasi kedua dari Tomanurungnge ri Matajang. Dia dibantu oleh seorang penasehat kerajaan bernama La Cagala, yang sangat pandai dalam hal mengatur pemerintahan, dan merupakan pemimpin keagamaan di Mampu.

Kehidupan masyarakat Mampu yang sebagian besar berprofesi sebagai petani dan nelayan, serta sebagian lagi berprofesi sebagai pengrajin, membuat kerajaan di masa lalu itu menjadi kerajaan yang sangat kaya. Apa saja yang mereka tanam pasti tumbuh dan menghasilkan panen yang melimpah. Sedangkan dari hasil laut berupa ikan dan garam seakan-akan datang menghampiri mereka tanpa perlu susah payah mencarinya. Hasil sandang berupa kain tenun mereka dapat membuat sendiri tanpa tergantung kepada negeri lain. Ternyata karunia yang diberikan oleh Tuhan yang tanpa henti, membuat mereka menjadi lupa diri. Mereka menjadi sombong dan takabur. Harta yang melimpah membuat mereka menjadi mabuk akan kesenangan, sehingga merajalela di seluruh penjuru negeri berbagai bentuk kesenangan yang akhirnya menjadi kemaksiatan. Karena makmurnya kerajaan itu, sehingga tak ada lagi batasan di antara raja dan rakyatnya. Sudah tak jelas lagi siapa yang melayani dan siapa yang dilayani.

Hidup mereka seperti di surga, karena semua yang mereka butuhkan ada di sekitar mereka tanpa perlu susah payah mencarinya. Tak jauh beda dengan rakyatnya, Raja dan Ratu Mampu demikian pula halnya, bahkan Ratu Mampu sepanjang hidupnya tak pernah lagi menggunakan pakaian. Tubuhnya dibiarkan bertelanjang sembari berbaring di peraduannya menikmati kesenangan. Tak ada lagi ritual penyembahan kepada Tuhan yang biasa mereka lakukan sebelumnya. Mereka berpendapat, bahwa tak ada campur tangan Tuhan dalam keberhasilan mereka selama ini. Hasil yang mereka dapatkan semata karena buah kerja keras mereka sendiri. Karena itulah Tuhan memberikan mereka ujian berupa seekor Anjing yang bisa bercakap-cakap seperti manusia kepada kerajaan Mampu.

Kutukan.

Raja La Oddang Patara memiliki seorang putri yang sangat gemar menenun kain sutera untuk dipakai sendiri. Karena kegemarannya itu, dia biasa menghabiskan waktunya hingga berbulan-bulan menenun kain di atas rumah. Hingga pada suatu waktu, alat tenun sang putri berupa teropong, terjatuh ke tanah, tapi dia begitu malas untuk turun mengambilnya. Sang putri meminta bantuan sambil berteriak meminta tolong, tapi tak ada yang memperdulikan teriakannya.

“Tolong !, Siapa yang ingin mengambilkan teropongku (alat tenun yang terbuat dari bambu aur untuk memasukkan benang)” teriak sang putri. Tapi tak seorangpun yang mendengarkan teriakannya, sehingga dia menjadi bosan dan mulai berjanji dalam hati. “Barang siapa yang menolongku mengambilkan alat teropongku di kolong rumah, maka apabila lelaki akan kujadikan dia sebagai suamiku. Dan apabila dia perempuan akan kujadikan saudaraku” janji sang putri. Ternyata janji sang Putri didengar oleh seekor anjing jantan yang kemudian pergi mengambil alat tenun tadi. Betapa terkejutnya sang putri ketika melihat seekor anjing jantan telah berdiri di hadapannya sambil menggigit alat tenun tadi. “Bagaimana mesti aku memenuhi janjiku, sementara engkau hanya seekor anjing” ujar sang putri.

Tiba-tiba anjing itu dapat berbicara seperti manusia dan segera menagih janji sang putri. “Walaupun aku hanya seekor anjing, tapi janjimu tadi berlaku untuk semua mahluk yang berkelamin laki-laki” tagih anjing itu. Terkesiap sang putri mendengarnya, dia tak menyangka bahwa anjing itu bisa berbicara sepertu manusia. “Tapi kamu hanya seekor anjing, tak sudi aku menikah dengan seekor anjing seperti kamu !” bentak sang putri, marah. Karena sang putri berkeras untuk tidak memenuhi janjinya, maka keluarlah sumpah dari mulut sang anjing. “Wahai sang putri ! Karena kamu telah ingkar janji dan semua orang di negerimu sering mengabaikan janji serta sering menunjuk-nunjuk kesalahan orang lain, maka melalui telunjuk kalian, aku kutuk kamu semua menjadi batu !” Sumpah sang anjing yang disambut dengan suara gemuruh di atas langit, yang seakan-akan mengabulkan kutukan itu. Seketika itu pula sang anjing lenyap dari pandangan sang putri raja. Awalnya, memang tak ada keanehan yang terjadi pada diri sang putri, seakan-akan kutukan tadi tidak berarti apa-apa baginya.

Namun tak lama berselang, iringan pengantin lewat di hadapan sang putri, dan diapun segera menoleh memperhatikan iringan pengantin tadi. Betapa terkejutnya sang putri, karena pada iringan-iringan tersebut, yang dilihatnya pada semua orang yang ikut rombongan, menempel pada dahinya sebongkah batu hitam.

Terkejutlah sang putri melihat kejadian sesaat setelah dia menunjuk kepada orang itu, karena tiba-tiba sekujur tubuh orang itu menjadi batu. Tersadarlah dia bahwa kutukan sang anjing telah berlaku. Gegerlah iringan pengantin tersebut, merekapun saling tunjuk dan tak terkecuali bagi sang putri. “Tuan putri, di dahi andapun ada batu” tunjuk salah seorang di antara mereka. Akhirnya sang putripun menjadi batu. Gemparlah keadaan di negeri Mampu. Seluruh penduduk saling tunjuk karena melihat batu di dahi orang lain. Semua yang kena tunjuk akhirnya menjadi batu, sehingga seluruh negeri menjadi batu.